Bandung, Kata Para Penyair

Unknown | 4:04 AM | 0 comments


Judul : Di Atas Viaduct (Bandung dalam Puisi Indonesia)

Editor : Ahda Imran

Penerbit : Forum Sastra Bandung

Terbit : I, Mei 2009

Halaman : 293 Halaman

Harga : Rp. 60.000


Bagi seniman, kunjungan ataupun kehadiran di sebuah kota, seringkali bukanlah sekadar menempatkan dirinya secara geografis dalam sebuah wilayah kota, namun seringkali secara spritual.

Artinya, kehadiran dirinya di dalam sebuah kota selalu melibatkan dimensi-dimensi spiritual, emosional hingga psikologis. Dimensi-dimensi inilah yang mendorong seniman untuk melakukan sebuah refleksi--baik tentang dirinya maupun tentang lingkungan di sekitarnya.

Hasil refleksi inilah yang kemudian dapat dituangkan ke dalam sebuah karya seni, misalnya saja puisi.

Begitu juga dengan antologi puisi Di Atas Viaduct ini. Di dalam buku ini termuat puisi-puisi dari sejumlah penyair. Saya sangat percaya, kehadiran puisi-puisi ini merupakan buah relasi penyairnya dengan lingkungan, atmosfer, dinamika masyarakat dan segala hiruk pikuk Kota Bandung.

Sebagian penyair mengungkapkan keprihatinannya terhadap Kota Bandung yang terus mengalami perubahan. Perubahan sosial yang berimbas kepada perubahan-perubahan lingkungan dan sosial, telah membuat penyair merasa roh dan wajah Bandung hilang.

Lihat saja puisi Juniarso Ridwan berjudul Ahoaho Bandung. Dalam puisi ini Juniarso menegaskan bahwa lingkungan kota Bandung tengah mengalami perubahan. Dalam saja tersebut Juniarso menulis, jajaran tiang beton, ya nenekku/tlah gantikan pohon kenari/ sepintas wajah penghuni kota/ tak kenal wajah sendiri//.

Kegelisahan yang sama tampak juga dalam puisi Diro Aritonang berjudul Braga Sky, ..deru bising kota/ melumpuhkan otakku/ jantung kota yang tak menentu/membuat kosong pandangan mataku/ di setiap trotoar jalana/...

Dari sajak ini terlihat bagaiman Diro Aritonang merasakan Bandung tidak lagi ramah. Braga Sky, yang menjadi judul sajak ini, adalah sebuah pusat belanja yang berada di kawasan Jalan Braga. Braga yang klasik, bangunan berarsitektur unik, kini terganggu dengan hingar bingar pusat belanja tersebut.

Selain sajak yang menyesalkan perubahan-perubahan negatif dalam Kota Bandung, sejumlah penyair pun menuliskan kegelisahan-kegelisahan personal saat mereka berada di Bandung. Hal ini tampak jelas pada sajak-sajak yang ditulis oleh Fadjroel Rachman dan Acep Zamzam Noor.

Dari kumpulan puisi ini kita dapat melihat bahwa Bandung pada dasarnya tidak dapat statis. Ia akan berubah. Persoalannya adalah bagaimana perubahan itu tidak membawa implikasi negatif, baik secara sosial ataupun ekologis.

Bagi mereka yang rindu kota Bandung, kumpulan sajak ini bisa menajdi pengobat rindu. Bagi mereka yang ingin mengetahui Kota Bandung lebih jauh, mungkin antologi inilah salah satu media yang bicara jujur mengenai Paris Van Java itu.

Duka Aceh

Unknown | 2:55 AM | 0 comments

Duka Aceh dalam Sejarah

Unknown | 2:55 AM | 0 comments


Judul: Lampuki
Penulis: Arafat Nur
Penerbit: Mizan
Terbit: Mei 2011
Halaman:433 halaman

Konflik di Aceh menyisakan luka. Bukan hanya untuk warga Aceh, namun juga untuk mereka yang diterjunkan ke daerah konflik dengan dalih meredam pemberontakan.

Dendam dan nafsu pembalasan seperti menjadi nafas bagi kubu yang saling bertikai. Kedamaian menguap, menyisakan amarah, kepal tangan serta kesumat. Hampir tidak ada jeda untuk memikirkan kemajuan-kemajuan riil di masa depan.

Kemajuan, kemerdekaaan serta kesejahteraan pun diterjemahkan secara berbeda-beda oleh pihak-pihak yang ekstrem berseberangan. Akhirnya, tidak ada pihak yang menang atau kalah. Keduanya mengalami kerugian yang sia-sia.

Arafat Nur secara jelas mengungkapkan hal-hal itu dalam Lampuki. Di dalam novel ini ia mengisahkan segala problema, dinamika serta gejolak masyarakat Aceh, ketika para pemberontak Aceh dan serdadu pemerintah saling mengarahkan senjatanya.

Menariknya, Arafat Nur tidak mengetengahkan kesemuanya dengan amarah ataupun emosi keberpihakan. Sebaliknya, ia mengungkapkannya dengan satir, sindiran, sinisme, sampai olok-olok.

Inilah yang membuat Lampuki terasa berbeda jika dibandingan dengan novel-novel lain dengan latar belakang konflik lokal lainnya. Lampuki tidak hadir untuk memihak, melainkan melakukan protes keras kepada semua pihak.

Ia ingin menelanjangi bahwa pihak-pihak yang bertikai hanyalah orang-orang yang justru menambah beban dan penderitaan rakyat biasa. Justru rakyat biasalah yang menanggung segala akibatnya.

Oleh sebab itu, Arafat tidak segan untuk mengatakan bahwa orang yang mengaku pemimpin perjuangan rakyat Aceh--yang dalam novel ini diwakili oleh Ahmadi--adalah seorang pengecut.

Ketika kampungnya disatroni oleh serdadu misalnya, wajah Ahmadi digambarkan tiba-tiba menjadi kecut. Ia seperti raja malang yang kehilangan kuasa dan martabat. Sinar matanya meredup dan kumisnya terkulai tiada daya.

Padahal Ahmadi mencitrakan dirinya sebagai sosok yang angker. Namun semua itu hanya kulit belaka. Sesungguhnya Ahmadi adalah orang tanpa perhitungan, tidak peduli kepada orang lain dan juga pengecut.

Arafat mendeskripsikan Ahmadi sebagai sosok yang membosankan, dengan kumis tebal yang memuakkan. Menghadapi fakta itu, tokoh "aku" dalam novel ini hanya bisa diam karena ia sendiri dalam posisi terintimidasi.

Sementara itu, Arafat menjuluki serdadu, alias tentara yang ditugaskan untuk meredam kaum separatis, sebagai pasukan beringas yang sering melakukan pembantai dan kekejian terhadap rakyat kecil.

Selain itu, di sana-sini Arafat kerap melemparkan kisah-kisah jenaka dari tokoh-tokoh yang "berseliweran" di dalamnya. Ini bukan sekadar humor, melainkan sebuah komedi masyarakat yang di dalamnya hadir kritik maupun gugatan.

Secara keseluruhan, tampak Arafat ingin mengajak pembaca melihat konflik Aceh dengan cara yang berbeda. Ia tidak ingin memerangkap pembacanya pada pengutuban "salah-benar" atau "Jakarta-Aceh".

Sebaliknya ia ingin pembaca melihat konflik dengan perspektif yang lebih luas. Di sini bukan hanya sisi politis yang diungkap, tetapi juga sisi sosiologis dan ekonomis masyarakat Aceh. Di sanalah persoalan-persoalan kemasyarakatan menggantung.***

KIsah Cinta Seorang Wartawan

Unknown | 10:35 PM | 0 comments


Judul : Belahan Jiwa

Penulis : Rosihan Anwar

Penerbit : Kompas

Terbit : I, April 2011

Tebal : 234 halaman

Harga : Rp. 48.000



Di antara puluhan buku maupun kumpulan tulisan yang pernah ditulisnya, Belahan Jiwa adalah buku yang paling memperlihatkan sisi romantis Rosihan Anwar. Buktinya, kata-kata seperti "sayang", "cinta" dan "salam manis" untuk Zuraida Sanawi, istrinya, bertebaran dalam buku ini.

Rosihan mengenal Ida, begitu panggilan akrab Zuraida, ketika keduanya bekerja di surat kabar Asia Raja. Awalnya hubungan mereka sebatas menyangkut pekerjaan. Tetapi garis tangan telah membawa mereka pada hubungan cinta.

Menurut Rosihan, keseriusannya membina hubungan dengan Ida tidak terlalu mulus. Pasalnya, ibu Ida mempertanyakan kesiapan Ida menerima Rosihan yang kala itu bekerja "hanya" sebagai wartawan.

Rosihan mahfum dengan pendapat calon mertuanya itu. Ia yakin, kebimbangan itu bukan didasarkan pada ketidaksukaan terhadap Rosihan, namun karena ia ingin Ida hidup bahagia. Ini wajar, sebab secara finansial, profesi wartawan saat itu tidaklah menjanjikan.

Dalam sebuah suratnya Ida menegaskan bahwa ia mau menerima Rosihan. Ia tahu benar konsekuensi-konsekuensi menjadi istri wartawan. Namun, dalam pandangan Ida, Rosihan adalah wartawan yang istimewa, itu alasannya ia mau menjadi istrinya.

Dalam buku ini memang dilampirkan sejumlah surat yang menunjukkan bagaimana korespondensi Ida dengan Rosihan. Kata-kata cinta yang sederhana plus cerita lain mengenai sahabat, kerabat dan lingkungan kerja, adalah ciri-ciri surat yang ditulis mereka.

Menariknya, dalam buku ini Rosihan tidak semata mengisahkan perjalanan cintanya, namun juga menuliskan sejumlah peristiwa sejarah. Inilah yang agak sulit untuk dihindari oleh Rosihan yang "berdarah" wartawan itu.

Dalam buku ini misalnya, Rosihan menuliskan peristiwa di kediaman AH Nasution pada saat terjadi G30S tahun 1965. Hal ini diceritakannya karena ia melihat sendiri kejadian tersebut secara “live”. Untuk diketahui, kediaman Rosihan kala itu berada di depan rumah AH Nasution. Baru keesokan harinya ia mengetahui secara lengkap apa yang sebenarnya telah terjadi.

Buku ini disusun oleh Rosihan setelah Ida tutup usia pada 5 September 2010. Dari buku ini terlihat bagaimana terpukulnya Rosihan setelah Ida meninggal dunia.

Bahkan anggota keluarga Rosihan harus berkali-kali memperingatkannya untuk tidak terus-menerus tenggelam dalam duka. Life must go on, begitu selalu disampaikan oleh anak-anaknya kepada Rosihan.

Lalu apa yang mendorong Rosihan menuliskan memoar ini. Bagi Rosihan menuliskan memoar adalah sebuah permohonan maaf sekaligus koreksi atas kesalahannya kepada Ida di masa lalu.

Seingat Rosihan, stres, tekanan pekerjaan, ancaman breidel, hingga situasi politik yang tidak menentu, kerap membuat dirinya ogah bicara kepada Ida. Ini yang diselali Rosihan. Tetapi Ida tidak melakukan protes, sebaliknya ia diam dan mengurus pekerjaan rumah seperti biasa. Itulah ekspresi cinta Ida yang besar terhadap Rosihan.

Buku ini bagaikan sebuah epilog dalam perjalanan hidup Rosihan. Sebuah epilog tentang cinta dan kesetiaan. Di sini Rosihan telah menyampaikannya dengan sangat indah ***


Kisah Pengabdian Inggit Garnasih

Unknown | 10:33 PM | 0 comments


Judul : Kuantar ke Gerbang

Penulis : Ramadhan KH

Penerbit : Bentang

Terbit : I, Maret 201

Halaman : x + 431 Halaman


Banyak keberhasilan tokoh besar justru didukung oleh perempuan hebat dan kuat di belakangnya. Perempuan itu tidak lain adalah para istri yang selalu setia. Pengorbanan dan dedikasi istrilah yang mengantarkan para suami ke gerbang kebesaran.

Namun sayang, kiprah perempuan-perempuan luar biasa itu sering terlupakan. Penyebabnya, para tokohlah yang lebih mendapat perhatian maupun ekspos ketimbang istri mereka.

Para perempuan ini memang tidak mengharapkan balasan. Namun, penghargaan patut mereka terima atas apa yang telah mereka sumbangkan bagi para tokoh yang mereka dampingi.

Begitu juga dengan roman sejarah Kuantar ke Gerbang yang mengisahkan perjalanan Inggit Garnasih dan Soekarno. Dari buku ini dapat terlihat bagaimana pengorbanan maupun sumbangsih Inggit terhadap Soekarno.

Dikisahkan dalam novel ini, bagaimana Inggit telah melakukan banyak hal untuk mendukung aktivitas Soekarno, dimulai dari ketika Soekarno masih menjadi mahasiswa di Bandung, hingga ketika ia mengalami masa-masa sulit di bawah tekanan pemerintah Hindia Belanda.

Pengorbanan Inggit Garnasih ini dideskripsikan oleh Ramadhan KH, penulis buku ini, misalnya ketika Inggit harus mencari nafkah untuk keluarga. Maklum, ketika masih menjadi mahasiswa, Soekarno belum memiliki pekerjaan. Padahal saat itu ia telah menikah dengan Inggit.

Hal yang sama juga terjadi ketika Soekarno dijebloskan ke dalam penjara oleh pemerintah Belanda karena dituduh telah merencanakan kejahatan. Ketika itu Inggit tetap setia mendampingi Soekarno.

Inggit menutup-tutupi kesulitan dirinya agar Soekarno tidak mengetahui keadaan yang sebenarnya. Ia ingin Soekarno tetap merasa tenang dan tidak diganggu pikiran tentang dirinya.

Bahkan ketika Inggit terpaksa berjalan bersama anaknya kaki dari Bandung menuju penjara Sukamiskin, Ujung Berung, Bandung, untuk menjenguk Soekarno, hal itu tidak diceritakannya. Ini menunjukkan bahwa Inggit ingin Soekarno tidak dibebani hal yang "tidak penting" selama berada di penjara.

Kesetian Inggit teruji kembali ketika Soekarno diasingkan ke Ende maupun ke Bengkulu. Ketika itu Inggit menyatakan akan mengikuti Soekarno ke pengasingan. Hal ini tentu bukan perkara mudah, apalagi kedua daerah itu merupakan wilayah yang belum pernah didatangi oleh Inggit sebelumnya.

Tetapi Inggit tidak memedulikan hal itu. Keputusannya untuk mengabdi kepada sang suami sudah bulat. Bagi Inggit, mendampingi suami dalam susah maupun senang sudah menjadi kewajiban seorang istri.

Hal yang paling melukai Inggit adalah ketika Soekarno mengemukakan keinginananya untuk memiliki anak. Itu berarti Soekarno harus menikah dengan perempuan lain karena Inggit kecil kemungkinanya untuk bisa memberikan anak.

Namun toh Inggit pasrah. Sebab ia tahu, dengan memberikan kesempatan kepada Soekarno untuk menikah dengan perempuan lain, berarti ia telah memberikan kesempatan kepada lelaki itu untuk berbuat banyak untuk Indonesia.

Itulah potret pengorbanan dan totalitas perempuan para pendamping tokoh besar negeri ini. Sekecil apapun, selalu ada yang diberikan demi sukses sang suami. Apa yang diterima, mereka tidak peduli.***

Dimuat di HU Koran Jakarta


Kekuatan Mimpi dan Harapan

Unknown | 7:53 PM | 0 comments


Judul : Bocah Penjinak Angin

Penulis : William Kamkwamba dan Bryan Mealer

Penerbit : Literati

Terbit : I, April 2011

Tebal : 396 halaman

Harga : Rp. 54.000

Mimpi dan ketekunan adalah kombinasi yang tepat untuk mewujudkan cita-cita. Pada titik tertentu, keduanya tidak hanya mengubah seseorang, tetapi juga mengubah dan menginspirasi orang-orang di sekitarnya.

Kisah dalam buku ini adalah contoh untuk hal tersebut. Demi mimpinya, seorang remaja miskin di Malawi, Afrika, nekad melakukan hal-hal dianggap konyol oleh kebanyakan orang. Ia bahkan tidak menggubris ejekan orang lain tentang dirinya, sebab ia yakin, apa yang dilakukannya akan membawa perubahan.

Adalah William Kamkwamba, bocah Malawi, Afrika, yang tumbuh di sebuah kawasan miskin. Musim panas panjang yang melanda negeri itu tidak hanya membuat dirinya terpaksa angkat kaki dari sekolah, namun juga membuat sejumlah temannya meregang nyawa karena kelaparan.

Tersingkir dari bangku sekolah ternyata tidak membuat ia patah semangat. Sementara terus bekerja membantu orangtuanya, William terus belajar. Sejumlah buku fisika dan teknik listrik dari perpustakaan dilalapnya.

Meskipun banyak hal yang tidak ia mengerti, namun kemauan keras telah membuka jalan kepadanya untuk memahami hal-hal tersebut. Apa yang sebelumnya dipahami secara samar, dengan studi pustaka, hal itu menjadi lebih jelas.

Kesungguhan itu akhirnya membuahkan hasil. Ia berhasil mendirikan sebuah kincir angin yang menghasilkan tenaga listrik. Orang-orang yang semula menganggap William "tidak waras" akhirnya mengakui kehebatannya.

Sukses inilah yang mengantarkan William menghadiri konferensi TED (Technology, Entertainment and Design). TED adalah sebuah pertemuan tahunan dimana para penemu, ilmuan dan pencipta, berbagi gagasan dan ide.

Dari apa yang dialami William, kita dapat belajar bahwa keterbatasan dan kekurangan tidak selalu menghambat usaha atau mimpi seseorang. Sebaliknya kendala itu sesungguhnya mendorong seseorang untuk lebih kreatif.

Barang bekas, benda-benda rongsokan misalnya, dapat diubah menjadi benda-benda yang lebih berguna. Bagi William tujuannya adalah satu, membangun sesuatu yang ia percaya kelak dapat melepaskan keluarganya dari kemiskinan dan kelaparan.

Pencapaian William tidak diraih dengan mudah. Kewajiban untuk membantu orangtua di ladang, kemiskinan, dukungan yang minim dari orang-orang di sekitarnya, adalah bukti bahwa mimpinya sulit untuk dicapai. Namun, keinginan yang kuat telah membalikkan keadaan itu.

William pun menjadi sumber inspirasi bagi orang-orang di desanya. Ia tidak banyak bicara. Namun karyanyanyalah yang berbicara dan menunjukkan siapa William sesungguhnya.

Selain sepak terjang William, buku ini juga mengisahkan selintas mengenai Afrika secara antropologis. Kepercayaan tradisional Afrika ternyata menjadi salah satu penghambat kemajuan. Sihir dan tahayul lebih sering mendapatkan tempat lebih luas dalam jalan pikiran mereka ketimbang hal-hal yang rasional.

Sementara itu, dari dunia politik, diceritakan selintas dalam buku ini bagaimana lembaga-lembaga resmi di negeri itu telah melakukan korupsi yang tidak tanggung-tanggung. Akibatnya kemiskinan kian meluas. Pemerintah yang tidak memedulikan rakyatnya turut memperparah kondisi ini. Namun, mimpi dan semangat perubahanlah yang dapat merombak keadaan.***


Indonesia di Mata Seorang Jerman

Unknown | 12:15 AM | 0 comments


Judul : A Magic Gecko

Penulis : Horst Henry Geerken

Penerbit : Penerbit Buku Kompas

Terbit : I, Februari 2011

Tebal : 407 halaman

Harga : Rp. 86.000

Pengalaman menginjakkan kaki di negeri-negeri Timur selalu menyisakan pertanyaan bagi mereka yang terbiasa dengan alam pikiran Barat. Kosomologi, cara berpikir, gaya hidup, serta sistem nilai Timur yang berbeda dengan Barat, adalah faktor yang membuat "perjumpaan" dengan Timur terkesan selalu bertumbukan.

Padahal jika saja semua perbedaan itu dapat dikompromikan, pertemuan itu akan menjadi lebih indah. Tidak harus ada gejolak ataupun penolakan yang berarti. Sebaliknya keselarasanlah yang terjadi.

Keberhasilan itulah kira-kira telah dicapai oleh Horst Henry Geerken selama menjalankan tugasnya di Indonsia. Ia tidak hanya dapat memahami semesta pemikiran orang-orang Indonesia, namun juga menerimanya sebagai bagian budaya.

Geerken yang berkebangsaan Jerman adalah pegawai telekomunikasi Jerman yang tengah menjalankan tugasnya di Indonesia. Ia datang ke Indonesia pada tahun 1963 untuk membantu membangun jaringan telekomunikasi yang sangat dibutuhkan pada saat itu.

Kehadirannya di Indonesia menjelang kejatuhan Presiden Soekarno telah membawa Geerken ke dalam sebuah pengalaman menarik sekaligus menegangkan. Menarik karena ia menjadi saksi sebuah peristiwa sejarah Indoneisa. Menegangkan karena Geerken melihat sendiri kekacauan politik yang berakhir dengan pertumpahan darah.

Dalam buku ini Geerken menyajikan berbagai catatan tentang Indonesia dan keindonesiaan. Catatatan-catatan ini seperti sebuah upaya untuk memotret realitas masyarakat Indonesia secara umum.

Sebut saja kecenderungan masyarakat Indonesia untuk memercayai hal-hal yang bersifat suparantural, mistik dan serta tahayul. Bagi Geerken hal-hal tersebut bertolak belakang dengan rasionalitas Barat.

Namun Geerken tidak menolak hal tersebut. Malah dalam beberapa kasus ia membiarkan pembantunya melakukan praktik itu di lingkungannya. Hal ini menunjukkan bahwa Geerken tidak alergi dengan perbedaan-perbedaan yang ada.

Meskipun begitu, Geerken juga mencatat sejumlah masalah budaya yang dialami oleh masyarakat Indonesia. Bagi Geerken hal itu tidak lepas dari latar belakang yang rumit. Inferioritas terhadap bangsa berkulit putih misalnya, adalah wujud keberhasilan pemerintah kolonial dalam menanamkan ketakutan yang berlebihan terhadap bangsa penjajah. Akibatnya, dalam jangka waktu panjang, orang-orang berkulit putih dianggap sebagai orang dengan derajat yang lebih tinggi.

Namun Geerken mencatat juga, sepak terjang Soekarno dalam politik internasional adalah bentuk pemberontakan dan usaha untuk lepas dari inferioritas tersebut. Soekarno yang terang-terangan melawan imperialisme Amerika Serikat dan Inggris adalah simbol perlawanan itu.

Lewat catatannya Geerken ingin menegaskan bahwa bangsa yang terjajah pun memliki potensi untuk melakukan perlawanan serta pemberontakan. Penolakan terhadap intervensi negara-negara Barat adalah sebuah pesan bahwa banyak masalah di negara berkembang tidak selalu dapat diselesaikan dengan formualsi Barat.

Tidak mengherankan apabila kemudian Soekarno dekat dengan Blok Timur. Namun inilah yang memicu kegerahan Amerika Serikat. Dari sinilah berhembus isu bahwa dinas rahasia Amerika Serikat, CIA, memiliki peran yang strategis dalam menjatuhkan Presiden Soekarno.

Bahkan ada indikasi bahwa lembaga yang sama juga berperan dalam pembasmian orang-orang yang dianggap berhaluan komunis. Mengenai hal tersebut Geerken menegaskan, bukti-bukti yang ada mengarah kepada keterlibatan Amerika Serikat.

Namun Amerika Serikat tidak mau mengakuinya. Padahal ada bukti bahwa Kedutaan Besar Amerika Serika di Jakarta memiliki daftar nama orang-orang komunis dalam tubuh militer Indonesia. Orang-orang ini kemudian disingkirkan secara sistematis (hal. 264).

Kedekatan Geerken dengan Soekarno tidak hanya menguak sejumlah aktivitas politik Soekarno, namun juga kehidupan pribadi presiden pertama Republik Indonesia tersebut. Di sinilah sisi lain Soekarno terungkap. Ia tidak hanya seorang presiden, namun juga seorang seniman dengan citarasa yang tinggi. Sebagian kecil kisah cintanya pun diungkapkan Geerken dalam buku ini.

Meskipun buku ini memiliki sub judul Peran CIA di Balik Jatuhnya Soekarno, tetapi tidak seluruh bab dalam buku ini mengulas hal tersebut. Sebagian besar isi buku ini adalah pengalaman Geerken bertemu dengan banyak orang Indonesia, baik secara kultural maupun filosofis. Dari sinilah ia mengenal "kekayaan" keindonesiaan.

Semua itu diungkapkan Geerken secara objektif, lugas, bahkan dengan sangat cair. Inilah yang membuat buku ini tidak membosankan ketika dinikmati.***



 
Copyright © 2012. Buku Novel Roman Terbaru - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger