Kretek Indonesia dalam Ancaman

Unknown | 7:19 AM | 0 comments



Judul: Membunuh Indonesia, konspirasi global Penghancuran Kretek
Penyususn: Abhisan DM, Hasriadi ary, Miranda Harlan
Penerbit: Katakata
Halaman: 157 Halaman
Terbit: Desember, 2011

Pendapatan negara dari cukai kretek selalu naik setiap tahunnya. Ironisnya, kampanye untuk memusuhi kretek kian gencar. Kemudian, berbagai peraturan diberlakukan agar ruang bagi penikmat kretek semakin sempit. Pertanyaan yang muncul, adakah agenda tersembunyi dari dinamika ini?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, buku ini mencoba membahas wilayah-wilayah yang memiliki kaitan dengan kretek. Dari situ tampak bagaimana letak strategis kretek terhadap budaya maupun ekonomi Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan.

Dari hasil pengamatan, ada sinyalemen kuat yang menunjukkan adanya usaha untuk melemahkan industri tembakau dan kretek Indonesia. Pertama-tama hal itu terlihat dari sejarah industri beberapa komoditi, seperti minyak kelapa, gula, garam, hingga jamu.

Awalnya komoditi-komoditi tersebut memiliki makna ekonomis. Namun, karena kampanye global yang dilakukan oleh negara-negara maju, perlahan-lahan industri tersebut meredup. Menurunnya pendapatan negara, serta nasib pilu petani yang menjadi ujung tombak penghasil bahan baku, adalah kenyataan pahit yang harus ditelan.

Salah satu contoh yang disampaikan lewat buku ini adalah kampanye untuk memperburuk citra minyak kelapa di Amerika Serikat. Hal ini terus menyebar ke seluruh dunia. Akhirnya tumbuh keyakinan bahwa minyak kelapa asal Indonesia berbahaya bagi kesehatan.

Hal yang sama terjadi juga dengan industri kretek. Lembaga dunia yang paling gencar mengampanyekan anti tembakau adalah WHO (World Health Organization). Namun belakangan diketahui, kampanye tersebut didukung oleh perusahaan yang memroduksi obat-obatan penghenti kebiasaan merokok (hal. 109).

Sinyalemen berikutnya adalah, hadirnya regulasi anti-tembakau seperti Udang-undang Kontrol Tembakau di Amerika Serikat, yang melarang penjualan rokok yang mengandung zat adiktif seperti cengkeh. Anehnya, regulasi ini tidak menyentuh produksi dan peredaran rokok mentol yang diproduksi di Amerika Serikat.

Untuk membatasi impor tembakau ke dalam negeri, Amerika Serikat juga membebani bea masuk yang sangat tinggi bagi produk tembakau. Bahkan kretek pun dilarang masuk, termasuk dari Indonesia. Sementara itu, perusahaan rokok terbesar di negeri itu, melebarkan sayapnya di luar negeri dengan mencaplok perusahaan rokok di puluhan negara. Ini adalah cara untuk melindungi industri tembakau dalam negeri Amerika Serikat.

Lebih jauh, kelompok-kelompok yang didanai korporasi multinasional ikut membatasi petani untuk menanam tembakau. Alhasil, Indonesia tidak kuasa membatasi impor tembakau. Sekali lagi, ini memperlihatkan bahwa negara-negara maju memang memiliki kepentingan dengan industri tembakau.

Muaranya, industri kretek dalam negeri mengalami ancaman. Ini tidak hanya akan memengaruhi pendapatan dari cukai rokok, melainkan juga meningkatnya jumlah pengangguran. Pasalnya, industri kretek adalah salah satu industri yang banyak menyerap tenaga kerja.

Jika hal ini tidak ditanggapi secara serius, industri kretek nasional yang pernah mengalami masa keemasan, akan bernasib sama dengan industri lain yang kini hanya menyisakan jejak kecil. Itu sebabnya lembaga dan otoritas terkait perlu melakukan sesuatu untuk mencegahnya.***

Menengok Akar Pemberontakan Bersenjata

Unknown | 1:43 AM | 0 comments


Judul : Rakyat dan Senjata

Penulis : Imam Soedjono

Penerbit : Resist Book

Terbit : I, November 2011

Halaman : x + 352 Halaman

Harga : Rp. 52.000.

Pemberontakan bersenjata acap kali dipicu oleh ketidakpuasan rakyat yang berlangsung menahun. Ketidakadilan, perasaan tertindas, hingga diskriminasi adalah faktor-faktor yang menyulut pemberontakan tersebut.

Hal di atas biasanya diperparah oleh ketidakmampuan rejim untuk memenuhi tuntutan rakyat. Rakyat yang tidak melihat titik terang penyelesaian persoalan, akhirnya merasa harus berbuat sesuatu. Mereka akhirnya mengangkat senjata untuk melakukan perlawanan.

Lewat buku inilah akar sejumlah peristiwa pemberontakan yang terjadi di negara-negara Asia, yakni Tiongkok, Filipina dan Vietnam, dibongkar. Tidak hanya petikan sejarah, buku ini juga mencoba untuk memperlihatkan bagaimana konflik berkembang di tengah kelompok yang saling berseberangan. Kelompok tersebut misalnya saja kaum borjuis dan kaum proletar.

Seperti yang terjadi di Tiongkok. Lahirnya PKT (Partai Komunis Tiongkok) pada tahu 1921, didasari atas pertentangan kelas antara kaum buruh dengan kaum borjuis. Bahkan dalam kongres pertama PKT dideklarasikan bahwa organisasi itu harus menggulingkan kaum borjuis dengan menggunakan tentara revolusioner proletar.

Sedangkan yang terjadi di Filipina, salah satu faktor pemicu pemberontakan bersenjata adalah kekuasaan asing yang dominan, yakni kekuasaan Jepang. Hal ini tidak saja terjadi di Filipina, namun juga di sejumlah negara Asia lainnya seperti Indonesia.

Selain itu, masih di Filipina, pemberontakan rakyat juga terjadi melawan para tuan tanah. Pemberontakan ini pecah ketika kaum Sakdal yang menginginkan reformasi nasional menuntut pembagian tanah dari para tuan tanah.

Karena keinginan tersebut dianggap mengganggu, maka gerakan kaum Sakdal dinyatakan dilarang. Sebagai reaksi, terjadi pemberontakan bersenjata yang dilakukan oleh puluhan ribu petani. Namun pemberontakan tersebut berhasil diredam oleh tentara pemerintah.

Pemberontakan lain yang tercatat dari Filipina adalah pemberontakan untuk menggulingkan presiden Ferdinand Marcos pada tahun 1986. Kediktatoran Marcos yang tidak dapat ditolerir oleh berbagai elemen masyarakat, telah menyudutkan presiden itu ke jurang kehancuran.

Berbagai janji Marcos yang tidak sepenuhnya dipenuhi, serta semakin merajalelanya korupsi para pejabat, telah memperkuat sikap anti Marcos. Oposisi bermuculan dari berbagai arah. Marcos akhirnya tidak dapat menahannya lagi dan ia harus menyerahkan kekuasaannya

Buku ini mengingatkan, mencuatnya pemberontakan bersenjata tidak semata-mata terjadi demi perebutan kekuasaan. Pemberontakan, yang kadang-kdang menjadi gerakan revolusi, selalu memiliki akar historis yang panjang.

Akar historis itu adalah tidak tercapainya keadilan dari lembaga-lembaga ataupun otoritas yang seharusnya dapat memberikannya. Merosotnya kemampuan lembaga pemerintahan dalam memenuhi kebutuhan rakyat juga memperparah kondisi ini.

Oleh sebab itu, siapa pun yang tengah memegang tampuk kekuasaan sebaiknya memerhatikan hal ini. Lalai dalam memenuhi rasa keadilan rakyat, pembiaran terhadap penindasan, dan ketidakberpihakan kepada rakyat, adalah awal dari perlawanan yang dampaknya panjang.

dimuat di HU Koran Jakarta 27 januari 2012

Wajah Hubungan Pers dan Kekuasaan

Unknown | 12:23 AM | 0 comments





Judul : Cerita di Balik Dapur Tempo
Penulis : Tim Tempo
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Tahun : Desember 2011
Tebal : 334 halaman
Harga : Rp. 65.000



Tidak pernah ada gelombang protes yang besar atas pembungkaman media, selain ketika majalah Tempo, beserta dua media lain, Editor dan Detik dilarang terbit oleh pemerintah pada tahun 1994. Kenyataan ini menujukkan bahwa Tempo telah memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sejarah pers Indonesia.

Namun, ada hal yang lebih penting dari pembreidelan itu sendiri, yakni gambaran pola hubungan antara pers dan pemerintah yang terjadi kala itu. Pembreidelan terhadap pers saat itu tidak hanya menjadi parameter prkatik demokrasi, malainkan juga watak kekuasaan pemerintah pada masa itu.

Dengan menyimak kisah Tempo seperti yang terekam dalam buku Cerita di Balik Dapur Tempo ini, kita dapat melihat tak hanya perjalanan sejarah majalah tersebut, melainkan juga keberadaan pers di masa Orde Baru.

Pada masa Orde Baru, hubungan pers dan pemerintah dapat dikatakan tidak terlalu harmonis. Di buku ini disebutkan bahwa majalah ini acap kali mendapatkan serangan balik dari pemerintah karena liputan investigatif yang dijalankan.

Menurut buku ini, hal yang sering dialami oleh media yang menjalani jurnalisme investigatif biasanya ancaman, teror, intimidasi, hingga pelarangan terbit. Hal ini biasanya ditujukan kepada wartawan secara pribadi, maupun kepada media tempat ia bekerja.

Sekadar mengambil contoh, pelarangan terbit majalah Tempo dilakukan setelah media ini menurunkan laporan mengenai pembelian kapal perang Asal Jerman Timur oleh pemerintah.

Kasus berikutnya adalah pelemparan bom molotov kantor redaksi setelah Tempo. Ini terjadi setelah media ini menurunkan laporan mengenai rekening milik sejumlah perwira tinggi kepolisian.

Kasus di atas ditambah dengan usaha untuk "mengalahkan" Tempo di pengadilan oleh sejumlah perusahaan besar. Perusahaan-perusahaan tersebut yang terlibat dalam skandal yang merugikan negara, misalnya skandal pajak.

Berbagai jenis tindakan represif di atas dilakukan untuk memberikan efek jera, chilling effect. Namun toh hal itu tidak serta-merta menghilangkan semangat maupun idealisme pers. Justru, kesadaran terhadap pentingnya keberadaan pers dalam masyarakat, pers mencoba untuk menghadapi "badai" seperti di atas.

Hal yang menarik dari pengalaman Tempo adalah mengenai independensi. Bagi pers, independensi menjadi hal mutlak. Independensi akan membat pers seimbang dalam menyampaikan fakta maupun kebenaran.

Dalam buku ini disampaikan kisah Tempo ketika untuk mencoba independen, yakni ketika perumahan Pantai Indah Kapuk tergenang banjir. Tempo menurunkan tulisan berjudul Janji-janji Ciputra. Karuan saja Ciputra berang. Pasalnya, selain memimpin perusahaan pengembang yang membangun perumahan tersebut, Ciputra juga komisaris perusahaan penerbit majalah Tempo.

Tetapi itulah "jalan" yang dipilih Tempo. Ia terus independen meksipun harus melawan "orangtuanya" sendiri. Jalan yang mungkin tidak mudah diambil oleh pers dalam era industri.

Buku ini memberikan gambaran bahwa pers sebaiknya konsisten dengan idelismenya. Meskipun tekanan terus datang, pantang surut untuk menyuarakan kebenaran.***





Potret Benturan Kultural

Unknown | 6:27 PM | 0 comments




Judul : Antara Jimbaran dan Lovina
Penulis : Sunaryono Basuki Ks
Penerbit : Cakra Press, Denpasar
Tahun : Oktober 2011
Tebal : x + 158 halaman
Harga : Rp. 35.000





Jika sastra adalah asbtraksi realitas, rasanya Antara Jimbaran dan Lovina adalah salah satu karya yang sanggup melakukan hal tersebut. Pasalnya, cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen ini berhasil menguak sebagian realitas masyarakat Bali kontemporer.

Dalam kumpulan cerpen ini, Sunaryono Basuki Ks, mencoba untuk mengidentifikasi dan merepresentasikan kompleksitas dan problem kultural masyarakat Bali. Pergeseran nilai dan krisis identitas, adalah tema-tema yang acap kali diangkat dalam cerpen-cerpen dalam antologi ini.

Dalam konteks Bali, masalah-masalah ini menjadi menarik. Hal ini disebabkan Bali sebagai salah satu tujuan wisata favorit, terbuka untuk hadirnya masalah-masalah tersebut. Perjumpaan dengan berbagai budaya, yang dibawa oleh wisatawan dari berbagai penjuru dunia, memungkinkan terjadinya benturan kultural dalam masyarakat.

Dalam sejumlah cerpen, hubungan seks yang dianggap tabu bagi pasangan belum menikah serta perselingkuhan misalnya, digambarkan telah menjadi hal yang lumrah terjadi di kalangan anak muda. Hal ini menjadi sebuah paradoks ketika masyarakat Bali dikenal sebagai masyarakat yang taat menjalankan ritus agama.

Sunaryono memang tidak menuliskan hal tersebut dengan nuansa gugatan atau protes. Ia juga tidak menggurui sehingga terkesan menjadi polisi moral. Namun, penggambaran ini menunjukkan adanya kegelisahan terhadap fenomena tersebut. Wajah masyarakat Bali yang sederhana dan taat beragama, seakan tergantikan dengan lukisan muram moralitas.

Cerpen-cerpen ini seakan mempertanyakan, apakah Bali memang telah mengalami perubahan. Jika jawabannya “ya”, tentu ini sebuah harga yang mahal yang harus dibayar untuk komodifikasi budaya yang sedang terjadi di Pulau Dewata itu.

Selain itu, benturan nilai budaya lokal dengan rasionalitas, tergambar pula dalam sejumlah cerpen dalam kumpulan ini. Sebut saja cerpen Gung Ayu Ariani. Dalam cerpen ini digambarkan seorang perempuan bernama Gung Ayu Ariani yang berani melawan tradisi sehingga disisihkan dari kehidupan bangsawan Bali.

Dalam cerpen tersebut digambarkan secara jelas sebuah perlawanan terhadap konservatisme dan feodalisme. Perlawanan ini bukan perkara mudah. Kerasnya adat membuat Ayu Ariani benar-benar tidak mendapat tempat dalam keluarga besarnya. Alhasil ia berjalan sendirian dengan keyakinan atas apa yang telah ditempuhnya.

Menyimak cerpen ini, pembaca seperti diajak untuk merenungkan kembali, apakah adat harus dipertahankan meskipun di satu sisi terjadi dehumanisasi. Ataukah harus dilakukan reinterpretasi agar tradisi tetap kontekstual?

Kumpulan cerpen ini semakin kaya dengan hadirnya tema-tema spiritual seperti reinkarnasi serta moksa. Ini terlihat dalam cerpen Dadong, Respati Telah Mati, Rajah, ataupun Sebuah Pura di Air Terjun Gigit.

Dalam cerpen-cerpen tersebut seakan diprlihatkan adanya dimensi metafisika yang misterius. Kemisteriusan ini yang mendorong manusia untuk merenungkan kembali adanya kehidupan lain setelah kematian. Bahkan Sunaryono seperti ingin menyadarkan pembaca bahwa hakikat kehidupan di dunia adalah misteri.***

Suara Guru Muda dari Pelosok Indonesia

Unknown | 12:07 AM | 0 comments




Judul : Indonesia Mengajar
Penyunting : Ikhdah Henny dan Retno Widyatuti
Penerbit : Bentang
Tahun : November 2011
Tebal : xviii + 322 halaman
Harga : Rp. 54.000



Keharuan dan kekaguman. Itulah yang terasa jika pembaca menyimak kisah-kisah dalam buku ini. Bagaimana tidak, para guru muda yang ditempatkan untuk mengajar di daerah-daerah terpencil di Indonesia, telah menemukan berbagai pengalaman yang memberikan makna lain pendidikan.

Mereka tidak lagi bicara soal teori pedagogi ataupun jargon-jargon yang diungkapkan oleh otoritas terkait mengenai pendidikan. Sebaliknya, mereka melakukan sebuah tindakan konkret dalam dunia pendidikan. Inilah yang sebetulnya dibutuhkan oleh Indonesia pada saat ini.

Lewat program Indonesia Mengajar yang digagas oleh orang-orang yang ingin melakukan tindakan nyata untuk kemajuan Indonesia, para sarjana dari berbagai perguruan tinggi, diundang untuk menjadi guru di berbagai pelosok daerah di Indonesia.

Rasanya, hanya “keterpanggilan” saja yang membawa para sarjana dari berbagai disiplin keilmuan itu mau berada di tempat-tempat jauh dari tempat berdiskusi para pemegang otoritas pendidikan. Mereka tidak sekadar mencari pengalaman apalagi uang, melainkan datang untuk berbuat sesuatu yang nyata bagi Ibu Pertiwi.

Sulit rasanya mengatakan bahwa mereka adalah sekelompok anak muda yang sekadar mengisi waktu sebelum bekerja di instansi tertentu. Sebab pada dasarnya anak-anak muda ini memiliki prestasi serta pencapaian di atas rata-rata. Jadi sesungguhnya tidak sulit bagi mereka untuk bekerja di lembaga atau instansi yang "menjanjikan".

Lalu, apa yang mereka dapatkan selama satu tahun berada tempat mereka ditugaskan? Apalagi kalau bukan sebuah pengalaman batin, pengalaman kemanusiaan dan pengalaman keindonesiaan.

Pengalaman-pengalaman itu sering kali bukan didapat dari peristiwa-peristiwa besar atau bernuansa heorik. Pengalaman semacam itu justru dari hal-hal sederhana, terutama dari hasil interaksi mereka dengan murid-murid dan orang-orang yang ada di sekitar mereka.

Kisah mengenai “anak nakal” yang ternyata pandai dalam mata pelajaran matematika (hal. 55) misalnya, menunjukkan bahwa anak-anak yang dianggap sebagai “preman” di kelas, terkadang memiliki kemampuan di atas rata-rata di bidang lain.

Di sinilah tugas seorang pendidik sesungguhnya. Pendidik bukanlah memberikan label buruk pada si anak, justru harus menemukan cara agar kemampuannya dapat berkembang, sekaligus mengubah perilaku yang secara umum dianggap “mengganggu”.

Hal yang serupa juga terjadi dalam kisah Syahrul Si Asisten Guru (hal. 61) yang ditulis oleh Intan nuni wahyuni, Munarsih (hal. 64) yang ditulis oleh Bayu Adi Persada, Ibu Guru Laini (hal.69) yang ditulis oleh Junarih, maupun Semua Tentang Rizky (hal. 85) yang dikisahkan oleh Dwi Gelegar G Ramadhan.

Tidak semua pengalaman yang dikisahkan dalam buku indah. Kekesalan, tekanan, bahkan rasa hampir frustrasi juga dialami oleh para pendidik muda ini. Itu semua karena berhadapan dengan siswa dan lingkungan baru selalu memunculkan masalah. Tidak mulusnya proses adaptasi adalah salah satu sumbernya.

Hal ini memperlihatkan bahwa pendidik muda tersebut memiliki titik lemah. Itulah sisi kemanusiaan. Persoalannya, apakah meraka sanggup melewatinya? Perjalanan selama setahun membuktikan bahwa mereka sanggup. Ini membuktikan bahwa integritas dan mentalitas mereka sudah teruji.

Dari setiap pengalaman yang disampaikan oleh para guru yang terlibat dalam program ini, terlihat bahwa mendidik bukan sekadar mengajarkan materi-materi pelajaran yang telah digariskan dalm kurikulum, melainkan juga menjadikan murid menemukan dirinya sendiri.

Selain itu, hal yang lebih penting adalah, usaha untuk terus menumbuhkan optimisme kepada para murid. Di tengah fasilitas serta ketersediaan dana yang terkadang serba terbatas dan tidak mencukupi, guru harus menumbuhkan semangat dan optimisme kepada para murid untuk berbuat sesuatu bagi diri maupun masa depannya.

Buku ini seharusnya menjadi inspirasi bagi guru-guru di daerah lainnya. Mendidik bukan sekadar menabungkan ide atau gagasan secara sistematis, melainkan memberikan bekal kepada mereka untuk menemukan dan mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya.***

Sejarah Virtual dan Virtualitas

Unknown | 7:51 PM | 0 comments



Judul: Virtual

Penulis: Rob Shield

Penerbit: Jalasutra

Tebal: 270 halaman

Ketika jaman menyeret setiap orang ke dunia digital, terminologi yang sering disebut adalah "virtual". Kata itu pun sering dipadukan dengan kata benda seperti "organisasi virtual", "kantor virtual", ataupun "kota virtual".

Namun kemudian terjadi kesalahkaprahan dalam memaknai virtual. Virtual seakan-akan menjadi sesuatu yang selalu terkait dengan teknologi maupun kemajuan. Padahal makna virtual tidak selalu seperti itu.

Dalam buku ini disebutkan, virtual adalah sesuatu yang riil namun tidak konkret. Ia hanya sebuah kualitas dan bukan sesuatu yang aktual. Virtual bahkan berbeda dengan abstrak.

Penulis buku ini, Rob Shields, mengungkapkan bahwa virtual merupakan sebuah kualitas yang merupakan efek dari sesuatu, namun ia bukan "sesuatu" dari yang dimaksud. Ia adalah sebuah simulasi, semacam penyimpangan dari yang aktual.

Dalam sejarahnya, virtual sudah hadir dalam lukisan-lukisan Barok yang menggambarkan sebuah peristiwa historis. Lukisan-lukisan tersebut bukanlah sebuah peristiwa historis, namun ia menghadirkannya kembali di masa kini. Oleh sebab itu, masa lalu pun digolongkan sebagai sesuatu yang virtual.

Kemudian, virtualitas pun muncul dalam peristiwa-peristiwa relijius. Dalam buku ini dicontohkan sakramen ekaristi dalam ritus agama Katolik. Roti yang digunakan dalam ritus ini adalah roti biasa. Namun di sana terjadi transubtansiasi sehingga keberadaan Kristus dipercaya hadir di situ.

Pada perkembangannya, seiring dengan perkembangan dunia komputer, virtualitas semakin mendapatkan tempat. Namun istilah virtual menjadi tumpang tindih, yakni antara yang merujuk pada skematisasi realitas atas sebuah artifak, dengan suatu ruang yang dihasilkan oleh digital oleh teknologi virtual (halaman 59). Oleh sebab itu perlu pembedaan antara realitas virtual (virtual reality) dan lingkungan virtual (virtual environment).

Buku ini juga menjelaskan sejumlah konsekuensi ataupun dampak dari virtualitas, terutama virtual environment yang dimediasikan oleh teknologi komputer dan digital. Salah satu yang disebutkan dalam buku ini adalah pekerjaan yang tervirtualisasi.

Pekerjaan yang tervirtuliasasi teleh menciptakan dehumanisasi hubungan. Ini disebabkan terjadinya pergerseran diskursif tempat bekerja. Hal ini dapat berujung pada menurunnya komunikasi antar manusia, dan bermuara pada situasi alienasi atau keterasingan.

Buku pertama-tama adalah sebuah usaha untuk meluruskan perjalananan sejarah virtualitas. Dari situ terdapat sebuah pemahaman utuh mengenai virtualitas beserta konsekuensi-konsekuensinya di era kontemporer.

Selain itu, buku ini juga mempertanyakan apakah virtualitas akan membawa masyarakat kepada sebuah halusinasi konsensual yang mengawali dehumanisasi. Atau sebaliknya, akan membawa kita pada sebuah tatanan masyarakat senantiasa inovatif dan adapatif pada penciptaan virtualitas digital global.***


Satire Turisme Bali

Unknown | 1:01 AM | 0 comments







Judul : Jangan Mati di Bali
Penulis : Gde Aryantha Soethama
Penerbit : Penerbit Buku Kompas
Tahun : I, 2011
Halaman : 316 halaman
Harga : Rp. 54.000


Industrialisasi selalu membawa perubahan pada kehidupan sosial. Begitu juga dengan industri pariwisata di Bali. Di pulau nan elok itu, kesakaralan, kearifan lokal, dan pemaknaan atas spiritualitas, telah mengalami perubahan.

Apakah hal itu semata-mata karena pariwisata di Bali digenjot habis-habisan demi keuntungan. Atau karena masyarakat Bali kini lebih realistis, dalam arti mereka lebih memilih uang ketimbang nilai-nilai lokal yang sebelumnya sulit untuk diusik.

Inilah yang dipertanyakan oleh Gde Aryantha Soethama dalam kumpulan tulisannya, Jangan Mati di Bali. Tidak hanya mempertanyakan, Gde Aryantha juga melakukan kritik atas perubahan-perubahan sosial yang terjadi di Bali.

Banyak sisi mengenai Bali yang "disentuh" oleh Gde Aryantha, mulai dari adat, kesenian, makanan, wisata, hikayat, hingga polah orang Bali. Semuanya ia sajikan dalam tulisan yang ringan, santai, sesekali dibumbui humor, tanpa kehilangan daya kritisnya.

Dari apa yang diungkapkan oleh Gde Aryantha, pembaca akan melihat bahwa perubahan-perubahan dalam masyaratak telah terjadi secara memprihatinkan. Ironisnya, perubahan itu tidak disadari oleh masyarakat Bali itu sendiri.

Salah perubahan yang tertangkap oleh Gde Aryantha adalah pengabaikan kesakaralan tampat-tempat tertentu, sebut saja pantai. Dalam kosmologi masyarakat Bali, pantai adalah tempat pertemuan dengan Sang Pencipta.

Tetapi turisme telah mengubah semuanya. Keindahan pantai tempat seseorang merenungkan keagungan Sang Pencipta telah menjadi komoditi. Tidak mengherankan jika sebuah upacara suci menjadi tontonan bagi turis asing yang tengah berbikini setengah telanjang.

Ironisnya lagi, tidak jarang satpam yang membentak orang Bali yang hilir mudik di pantai dekat hotel. Padahal dia adalah orang asli Bali yang mewarisi keindahan pantai di Bali.

Kemudian soal desakralisasi kesenian Bali, misalnya saja tarian. Demi memperkenalkan tarian Bali ke publik secara luas, tarian sakral Bali dikemas dengan cara yang berbeda. Alhasil, tarian sakral penuh makna menjadi "tarian pop" yang lebih mudah dicerna dan dikonsumsi oleh publik.

Perubahan sosial karena persentuhan dengan budaya luar secara teoritis sulit untuk dihindari. Namun ini bukanlah justifikasi untuk membiarkan Bali berubah. Apalagi trend perubahan itu menjurus ke arah lenyapnya lokalitas Bali. Padahal, lokalitas tersebut merupakan daya tarik wisata.

Lewat buku ini Gde Aryantha seolah ingin mengingatkan bahwa masyarakat Bali harus mewaspadai kecenderungan-kecenderungan negatif akibat komodifikasi budaya Bali. Menyerahkan diri kepada permintaan pasar turisme jutru akan membuat persoalan kian pelik
.
Secara umum buku ini sesungguhnya menjadi peringatan bagi kawasan potensial wisata lain di Indonesia. Kekeliruan dalam menerjemahkan kebutuhan industri wisata bukan tidak mungkin akan memunculkan masalah sosial dan budaya yang kian pelik.

Sudah saatnya semua pihak yang berkepentingan memajukan wisata nasional harus memiliki strategi yang tepat. Sebuah strategi yang dapat menjawab kebutuhan persaingan wisata, tanpa mengorbankan identitas lokal yang potensial mencabut masyarakat dari akar budayanya.***



 
Copyright © 2012. Buku Novel Roman Terbaru - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger